Festival Jajanan Bango 2015 Menggoyang Lidah Dari Kuliner Nusantara

Pintu gerbang Festival Jajanan Bango 2015 di Surabaya (dokumen pribadi)
Saya cukup surprise ketika mendapat email undangan dari salah satu selebritis kuliner kondang di Indonesia yaitu mas Arie Parikesit. Ini adalah undangan yang kedua. Yaitu kopdar sambil incip-incip di event Festival Jajanan Bango 2015 yang kali ini mampir di kota Surabaya. Tidak berlama-lama, kemudian sayapun mengirim email konfirmasi untuk bersedia menghadiri undangan tersebut. Karena beliau meminta untuk mengajak teman blogger, sayapun kemudian mengontak beberapa teman yang biasa mengikuti kegiatan kopdar dan kongkow bareng. Sayang banget. Karena memang waktunya mepet dan berbarengan wiken jadi banyak yang tidak bisa. Tapi akhirnya saya berhasil mengajak Siska yang kebetulan belum punya agenda acara. Teman blogger dengan nama lengkap Fransiska Manginsela itu arek Situbondo tapi kerja dan tinggal di Gedangan. Karena lokasi rumah kami tidak berjauhan, akhirnya sepakat untuk bisa berangkat barengan.

Cuaca panas terik Surabaya siang ini ternyata tidak menyurutkan antusias pecinta kuliner untuk berkunjung ke Festival Jajanan Bango (FJB). Kebetulan berbarengan dengan HUT Surabaya, FJB 2015 kali ini di gelar dengan cukup meriah yang ke 10 kalinya sejak tahun 2005. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Surabaya yakni di Grand City Mall. Dengan diikuti 41 pelaku bisnis-kuliner, warga Surabaya dan sekitarnya bisa menikmati aneka ragam masakan warisan nusantara dari Barat sampai ke Timur. Dan sebagian besar mereka adalah legenda kuliner di daerahnya masing-masing, tapi namanya sudah cukup terkenal di seluruh Indonesia.

Dengan kehadiran beragam kuliner yang rasanya terkenal cukup menggoyang lidah itu, membuat warga Surabaya penasaran ingin menikmati kelezatan masakan tradisional nusantara ini. Kebetulan bertepatan dengan hari Minggu, berbondong-bondong  warga Surabaya dan sekitarnya tumplek blek di lapangan parkir mobil depan mall Grand City tempat diselenggarakannya acara itu. Mulai dari kalangan orang tua, remaja, anak-anak sampai bayi pun, rela berdesak-desakan demi bisa merasakan kelezatan kuliner dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Itupun karena Festival Jajanan Bango hanya di buka satu hari saja yaitu Minggu 31 Mei 2015 mulai pukul 08.00-22.00 WIB.

Sebelum memasuki kawasan FJB, tampak di pintu gerbang sudah di sambut dengan ornamen dan hiasan yang khas dan cukup meriah. Warna hijau toscha yang identik dengan kecap bango, hampir menghiasi seluruh area pameran. Di sekitar pintu gerbang tampak banyak pengunjung yang mengabadikan gambar. Saya pun tidak mau ketinggalan. Di samping untuk kenang-kenangan, saya turut bangga bisa hadir dalam acara ini. 

Ketika masuk ke dalam lokasi FJB, banyak tempat yang unik dan menarik bisa di pakai untuk berfoto ria. Dengan menamakan kawasan sebagai Kampung Bango, dilengkapi properti yang hampir semua bernuansa tradisional membuat suasana tempo dulu terasa kental sekali. Penyelenggara memang konsisten dengan tema yang di usung yaitu melestarikan kuliner Indonesia dari segala penjuru tanah air. Kebudayaan, adat istiadat serta sejarah dari masing-masing daerah juga di tonjolkan dalam bentuk pajangan.

 


Selanjutnya saya dan Siska melewati panggung utama sebelum menuju tempat sesuai petunjuk dan arahan mas Arie di email. Rupanya sedang ada pertunjukan Reog Ponorogo. Saya coba mengabadikannya meskipun diantara himpitan pengunjung yang antusias menikmati kesenian tradisonal daerah.

Ketika kami sampai di tempat nantinya untuk daftar ulang, ternyata masih sepi dan hanya ada meja kosong. Rupanya panitia belum ada di tempat. Saya liat jam di tangan, ternyata masih sekitar 20 menit lagi. Untuk membunuh rasa bosan, sayapun tidak mau kalah dengan pengunjung yang lain. Panas matahari Surabaya yang makin menyengat, tidak membuat saya surut untuk terus berselfie ria hehehehe.... 


Sambil menunggu jam 13.00 WIB waktu yang tercantum dalam email undangan dari mas Arie, saya mencoba berkeliling di area FJB 2015. Meskipun panas terik makin menyengat kulit, tapi pengunjungpun tidak berkurang malah makin bertambah. Saya pun jadi ikut antusias meskipun tadi lupa belum memakai sunblock.....cieeeeeeeeee, emang ngaruh? heheheheh


Ketika saya sampai pada satu sudut yang membuat saya sangat tertarik. Karena area begitu besar, panitia memasang beberapa rambu dan penunjuk arah. Tapi juga menyediakan tempat bagi ibu-ibu apabila ingin membawa bayi dan ingin menyusuinya. Wow....jarang banget ada event yang demikian peduli pada kebutuhan ibu dan bayinya. Sepertinya event ini memang untuk dinikmati seluruh lapisan masyarakat dan sosial. Sehingga semua bisa dengan nyaman menikmati. Apalagi sebagian besar memang kaum ibu yang begitu antusias untuk mencari informasi seputar kuliner di ajang FJB ini. Kalaupun dengan terpaksa harus membawa bayi, tidak akan terlantar karena disediakan tempat yang nyaman dan aman untuk menyusui. Salut buat Panitia FJB 2015.
Selanjutnya saya menyempatkan diri mampir ke Dapur Bango. Melihat penataannya yang cukup unik, saya jadi ingat dapur eyang putri saya di Kediri, Jawa Timur. Mirip banget. Ada tampah, wakul, besek, dandang, kendi...bernuansa Indonesia banget. Tapi dipadukan juga dengan beberapa perangkat memasak yang lebih modern, seperti kompor gas dan penggorengan dari teflon.

Disini saya juga tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto ria. Kelihatan nggak canggung kaaaan? Karena saya memang seorang Chef, meskipun cuman di rumah saja hehehehe....
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 lebih sedikit. Kemudian saya ajak Siska kembali ke tempat daftar ulang tadi. Ternyata masih tetap sepi. Tapi saya melihat ada beberapa panitia yang sudah hadir. Kami pun segera dipersilahkan untuk mengisi absensi dan tidak lupa diberi goodie bag. 
Tidak sampai 15 menit, beberapa blogger sudah memenuhi meja daftar ulang tersebut. Untung saja tadi kami datang lebih awal. Jadi terbebas dari himpit-himpitan di bawah panas matahari yang kian garang menyengat. Apalagi melihat goodie bag yang sudah di tangan. Saya jadi penasaran untuk mengintip isinya. Yang ternyataaa. Woow.
Isinya keren loooo. Ada beberapa kipas kertas yang bisa berfungsi untuk mengusir panas di lokasi FJB 2015. Ada voucher 5 ribuan berjumlah 20 lembar jadi totalnya 100 ribu (lumayan bisa bikin kenyang nih buat modal incip-incip hehehehe). Ada juga 2 sachet bumbu tempe dan tahu bacem Bango, ini pasti dong saya pakai. Karena hampir tiap minggu saya selalu membuat tempe dan ayam bacem dengan bumbu dari Bango yang manisnya cukup pas di lidah saya dan keluarga. Serta kaos hijau tosca dengan tulisan yang cukup kocak "Lalapan Sunda sudah pasti segar-segar, apalagi Jejaka Sunda" wakakakakakaka... Makasih ya mas Arie untuk goodiebagnya. 

Dan keberuntungan saya selanjutnya adalah.. Karena termasuk yang punya gawe dan selalu dikerubuti fansnya terutama para blogger, mas Arie berkenan menyempatkan diri untuk berfoto dengan saya di sela kesibukannya. Ini pertemuan kedua saya dengan mas Arie. Tapi setiap momen selalu saya anggap istimewa dan tidak akan terulang kedua kali. Jadi setiap ada kesempatan selalu diupayakan untuk diabadikan lewat foto. Sebenarnya kostum kami cukup serasi , hitam dan putih. Seharusnya hasil foto pasti oke lah. Tapi entah kenapa kok raut wajah saya sedikit aneh ya hehehehe.... Setelah selesai bertegur sapa dengan mas Arie, saya dan Siska mulai menjelajahi satu demi satu stand makanan yang hampir semuanya dipenuhi pembeli. Dan herannya, semua penuh dan pake ngantri lagi.
Di bawah ini adalah beberapa stand yang sempat saya ambil gambarnya :
























Sedangkan sasaran pertama yang ingin saya incip adalah Pindang Ikan Patin Wong Palembang. Beruntung ketika saya datang, pengunjung tidak terlalu ramai. Sehingga saya bisa sambil mengajak ngobrol pemiliknya yang sekaligus melayani pesanan saya. Kata dia, ikan patin tersebut didatangkan langsung dari sungai Musi Palembang. Pantesan. Harganya cukup mahal yaitu 25 ribu rupiah mendapat sepotong ikan yang besarnya seperempat dari seekor ikan patin.

Sedangkan pilihan kedua, saya kemudian menuju stand Siomay Little Menteng. Tidak terlalu ramai tapi tetep antri. Satu porsi di hargai 20 ribu rupiah.
Ketika kebetulan lewat tenda bakwan atau bakso yang cukup menggoda, saya coba menentukan pilihan pada makanan yang banyak digemari orang hampir di seluruh dunia tersebut. Apalagi dengan label dari kota Malang, pasti terjamin kelezatannya. Malang memang terkenal dengan kuliner bakso yang cukup terkenal, hampir di seluruh pelosok kota Malang. Karena mengandung kuah, saya lebih memilih untuk di bungkus saja. Daripada repot dan takut tumpah atau ribet karena saya lebih suka sambal dan sausnya tidak di campur jadi satu dengan kuah bakwannya. 
Begitu juga ketika saya ingin membeli ayam bakar Warung Apung Rahmawati. Ayam bakar adalah salah satu makan favourite saya. Biasanya saya lebih suka makan dengan cara muluk (pakai tangan alias tanpa sendok). 
Stand yang saya pilih untuk incip-incip, ketika saya datangi awalnya tidak begitu ramai. Tapi ketika setelah saya pergi, pengunjung jadi membludak... Ge er boleh dong. Mungkin mereka yakin wajah saya bisa merasakan masakan yang enak kali hehehe.... Tapi tidak dengan stand makanan yang satu ini. Dari awal saya datang hanya sekedar melihat-lihat, pengunjung sudah antri panjang mirip antrian sembako. Sampai saya balik lagi untuk ikut pesan, ternyata antrian makin panjang. Akhirnya saya coba keliling dulu, eh siapa tau nanti kembali pas udah sepi.
Mungkin karena capek berkeliling, akhirnya perut kami berbunyi tanda lapar. Kebetulan posisi kami di depan Nasi bakar Like. Sepertinya enak dan praktis kalau memang harus makan sambil berdiri. Mau gimana lagi, udah nggak ada tempat yang bisa di pakai untuk duduk. Harganya di bandrol 15 ribu rupiah.
Setelah puas mengisi perut dengan sebungkus nasi bakar Like, kami bergegas balik ke stand Martabak Mesir Resto Sederhana. Tapi ternyata, ketika  saya sampai di tempatnya, memang pengunjungnya sudah tinggal beberapa orang saja sih. Kemudian saya ikutan antri dengan pede dan manis di urutan paling belakang pengunjung yang ada. Eh tiba-tiba penjaganya bilang dengan tidak kalah manisnya kalau martabaknya sudah habis. Waaaaaaahhhh.... Bisa kebayang kan wajah saya saat itu? Terus gimana dong? Ya mau gimana lagi. Akhirnya berfoto ria aja di depan stand martabak mesir itu sambil menelan ludah....
Akhirnya, pada pukul 15.45 WIB saya ajak Siska untuk pulang saja. Rasanya sudah tidak sanggup memikul beban di kaki dan juga sepertinya barang bawaan semakin banyak. Tapi justru semakin sore pengunjung semakin ramai dan membludak di lokasi pameran Festival Jajanan Bango. Mungkin karena cuaca sudah agak redup menjelang senja, sehingga tidak lagi panas. Sehingga bisa dengan nyaman menikmati pesta kuliner nusantara di hari terakhir ini. 
Sesampai di rumah, yang pertama saya buka adalah Bakwan Malang Senayan Pak Miing. Sekilas penampilannya mirip seperti bakwan pada umumnya. Ada pangsit, siomay, pentol bakso, tahu plus mie keriting dan bihun. Tapi ketika sudah mendarat di lidah, terasa beda banget rasanya dengan bakwan lainnya. Apalagi di cocol kecap dan sambal yang memang satu paket. 
Saya sudah ngiler ketika melihat tampilan siomay waktu pesan tadi. Ternyata rasanya tidak mengecewakan. Aroma tengiri yang kuat dan testur tepungnya yang kenyal di siram bumbu kacang dengan cita rasa yang manis. Nyesel jadinya kenapa tadi tidak pesan 2 porsi atau lebih....

Masakan terakhir yang saya incip adalah Ayam Bakar Warung Apung Rahmawati. Karena saya suka cita rasa yang manis, tadi saya memilih bumbu kecap. Dengan harga 20 ribu rupiah, ada nasi, tempe, tahu dan sepotong ayam kampung yang lumayan untuk satu kali santap. Dan tidak lupa sambal terasinya. Sayang kok nggak ada lalapannya ya? Tapi raa bumbu yang didominasi manis, terasa pas di lidah.
Selanjutnya, bagaimana pendapat saya setelah mengunjungi FJB 2015 dan menikmati 5 menu masakan nusantara? Hanya 1 kata, kereeeeeeeeennnnn. Kata "keren" tersebut sudah menggambarkan betapa saya bangga dan puas melihat betapa masih banyak saudara kita yang menghargai masakan-masakan khas dari daerah yang beraneka ragam itu. Ternyata kelezatannya tidak kalah dengan masakan eropa atau luar negeri. 
Festival Jajanan Bango 2015 yang kali ini mengusung tema "Persembahan Kuliner dari Barat ke Timur Nusantara" merupakan bagian dari komitmen Bango dalam melestarikan warisan kuliner Indonesia yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Dan dengan misi tersebut, mudah-mudahan Bango mampu mengajak masyarakat untuk tetap cinta dan bangga terhadap kekayaan warisan kuliner Nusantara.

 Sampai jumpa di Festival Jajanan Bango 2016


Komentar

  1. sayangnya aku nggak datang pas acara ini..bawaan orok males yg mau kemana mana..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung nggak dateng mbak....panaaaaasssss....malah kasian debay nya :)

      Hapus

Posting Komentar